Jumat, 23 Mei 2025

,


Bulan Dzulhijjah dalam sudut pandang Islam memiliki keistimewan. Diantara bentuk keistimewaan yang dimiliki, bahwasanya di bulan ini, berbagai macam ibadah terkumpulkan dan disyariatkan secara khusus. Dan secara spesifik, keistimewaan tersebut dimiliki pada tanggal 1 sampai 13 Dzulhijjah. Dan diantara bentuk keistimewaan har-hari di bulan Dzulhijjah ini, adalah;

 

Pertama, Allah Ta’ala menjadikannya sebagai sumpah-Nya. Dan ketika Allah menjadikan salah satu makhluk-Nya sebagai sumpah, menunjukkan akan keistimewaan akan makhluk tersebut. Allah Ta’ala berfirman;

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيالٍ عَشْرٍ (2)

“Demi fajar (1) Demi malam-malam yang berjumlah 10 (2).”

[ QS Al-Fajr ayat 1-2 ]

 

Imam Al-Baghowi (510 H) dalam tafsirnya menyampaikan;

 رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّهَا الْعَشْرُ الْأُوَلُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ. وَهُوَ قَوْلُ مُجَاهِدٍ وَقَتَادَةُ وَالضَّحَّاكُ والسدي والكلبي

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma; malam-malam itu adalah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan ini pendapat Mujahid, Qotadah, Ad-Dhohhak, As-Suddiy, dan Al-Kalbiy.”

 

Kedua, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah disebut sebagai hari yang sudah diketahui (ayyam ma’lumat), yang didalamnya banyak dzikir dilambungkan dalam memuji Allah Ta’ala dan mengagungkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman;

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk diri mereka sendiri, dan menyebut nama Allah Ta’ala di hari-hari yang sudah diketahui, atas apa yang telah Allah Ta’ala berikan rezeki kepada mereka berupa hewan ternak, maka makanlah darinya, dan berikan kepada orang miskin yang tidak meminta dan yang meminta.”

[ QS Al-Hajj ayat 28 ]

 

Imam Al-Baghowi (510 H) dalam tafsirnya menyatakan;

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوماتٍ، يَعْنِي عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ فِي قَوْلِ أَكْثَرِ الْمُفَسِّرِينَ

“{Dan mereka menyebut nama Allah di hari-hari yang diketahui} yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah menurut pendapat mayoritas ahli tafsir.”

 

Ketiga, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah hari paling utama dalam ibadah kepada Allah Ta’ala. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ» يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“((Tidak ada hari yang amal-amal sholeh di dalamnya lebih dicintai Allah Ta’ala melebihi hari-hari ini -yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah-)).’ Maka para sahabat bertanya; ‘Wahai Rasulullah tidakkah menyamai jihad di jalan Allah ?’. Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab; ((Bahwa jihad tidak bisa menyamainya, kecuali jika dia jihad dengan nyawa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan keduanya -dia mati dan hartanya habis -edt-)).”

[ HR.Abu Dawud (2438) ]

 

AMALAN SELAMA BULAN DZULHIJJAH

1. Menjalankan ibadah haji dan umroh

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa ayng haji, lalu dia tidak berbuat keji dan tidak berbuat fasiq, maka dia kembali seperti hari dimana dia baru dilahirkan ibunya.”

[ HR.Bukhari (1521) ]

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan;

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، وَالْعُمْرَتَانِ أَوِ الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ يُكَفَّرُ مَا بَيْنَهُمَا

“Haji mabrur, tidak ada balasan kecuali surga, dan umroh yang satu ke umroh berikutnya, menghapuskan dosa antara keduanya.”

[ HR.Ahmad (7354) ]

 

2. Berqurban

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan manusia di hari qurban (iedul adha) yang lebih dicintai Allah Ta’ala melebihi amal menumpahkan darah (qurban). Sungguh qurbannya akan datang padanya pada hari kiamat, dengan tanduknya, bulunya, kukunya. Dan bahwa darahnya sampai disisi Allah Ta’ala (pahalanya) sebelum terjatuh ke bumi. Maka hendaknya kalian berkurban.”

[ HR.Tirmidzi (1493) ]

Juga sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada sayyidah Fathimah radhiyallahu anha;

قَوْمِي إِلَى أُضْحِيَّتِكَ فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّ لَكِ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا يُغْفَرُ لَكِ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبُكَ» قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ خَاصَّةً أَوْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً؟ قَالَ: «بَلْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً»

“((Wahai Fatimah, berdirilah dan saksikan qurbanmu, sesungguhnya sejak tetesan pertama dari darahnya, dosamu yang telah lalu akan diampuni)). Maka ada seorang sahabat yang bertanya; ‘Wahai Rasulullah, apakah ini berlaku hanya untuk keluargamu saja atau seluruh kaum muslimin ?’. Beliau menjawab; ((Ini berlaku untuk semua kaum muslimin)).”

[ HR.Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7525 & 7526), dan beliau berkata; hadits ini shahih sanadnya ]

 

3. Puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)

Sebagaimana hadits Abu Ayyub Al-Anshori radhiyallahu anhu;

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: ((يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ))

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah. Maka beliau berkata; ((Puasa Arafah bisa menghapus dosa setahun yang telah lalu dan yang akan datang)).”

[ HR.Muslim (1162) ]

 

4. Puasa tanggal 1-8 Dzulhijjah

Sebagaimana hal ini diriwayatkan dari sebagian istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam puasa 9 hari bulan Dzulhijjah, hari Asyuro, 3 hari setiap bulan, hari senin dan kamis pertama setiap bulan.”

[ HR.Abu Dawud (2437), Ahmad (22334) ]

 

Juga hadits Hafshoh radhiyallahu anha berkata;

 أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالْعَشْرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ

“Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam; puasa Asyuro, puasa 10 hari Dzulhijjah, puasa 3 hari setiap bulan, shalat dua rakaat sebelum shubuh.”

[ HR.An-Nasai (2416) ]

 

 

Imam Nawawi (676 H) dalam Roudhotut Tholibin (2/388) menyatakan;

قُلْتُ: وَمِنَ الْمَسْنُونِ، صَوْمُ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، غَيْرَ الْعِيدِ

“Dan saya katakan; disunnahkan pula puasa 10 hari bulan Dzulhijjah selain hari rayanya.”

 

Ibnu Hajar (974 H) dalam Tuhfatul Muhtaj (3/454) juga menyatakan;

(وَ) يُسَنُّ بَلْ يَتَأَكَّدُ صَوْمُ تِسْعِ الْحِجَّةِ لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ فِيهَا

“(Dan) disunnahkan bahkan ditekankan puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah karena riwayat yang shahih dalam hal ini.”

Adapun hadits Aisyah radhiyallahu anha;

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ

“Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam puasa di sepuluh hari Dzulhijjah sama sekali.”

[ HR.Muslim (1176), Tirmidzi (756), dan lainnya ]

 

Maka dijawab dengan dua jawaban;

 

Pertama, ketika dua hadits yang sama-sama shahih bertentangan, maka kaidah menyatakan bahwa riwayat yang menetapkan sebuah amalan lebih dikuatkan daripada yang menafikan amalan tersebut. Karena bagi yang menetapkan ada ziyadah ilm (tambahan informasi yang tidak diketahui oleh yang menafikan). Dan ini yang ditempuh oleh Imam Al-Baihaqi dalam Sunan Kubro-nya (8394), setelah meriwayatkan hadits Aisyah radhiyallahu anha di atas, beliau menyatakan;

وَالْمُثْبِتُ أَوْلَى مِنَ النَّافِي مَعَ مَا مَضَى مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ

“Dan yang menetapkan lebih didahulukan daripada yang menafikan, disertai hadits Ibnu Abbas yang telah berlalu.”

 

Kedua, hadits Aisyah ini ditakwilkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah terlihat puasa 10 hari Dzulhijjah disisinya, karena sakit, safar, atau udzur lain. Ini yang ditempuh oleh Imam Nawawi (676 H) dalam Syarah Shahih Muslim (8/71-72) menyatakan;

قَالَ الْعُلَمَاءُ هذا الحديث مما يوهم كراهة صوم العشر وَالْمُرَادُ بِالْعَشْرِ هُنَا الْأَيَّامُ التِّسْعَةُ مِنْ أَوَّلِ ذِي الْحِجَّةِ قَالُوا وَهَذَا مِمَّا يُتَأَوَّلُ فَلَيْسَ فِي صَوْمِ هَذِهِ التِّسْعَةِ كَرَاهَةٌ بَلْ هِيَ مستحبة استحبابا شديدا لاسيما التَّاسِعُ مِنْهَا وَهُوَ يَوْمُ عَرَفَةَ وَقَدْ سَبَقَتِ الْأَحَادِيثُ فِي فَضْلِهِ وَثَبَتَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَفْضَلُ مِنْهُ فِي هَذِهِ يَعْنِي الْعَشْرَ الْأَوَائِلَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ فَيُتَأَوَّلُ قَوْلُهَا لَمْ يَصُمِ الْعَشْرَ أَنَّهُ لَمْ يَصُمْهُ لِعَارِضِ مَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِمَا أَوْ أَنَّهَا لَمْ تَرَهُ صَائِمًا فِيهِ وَلَا يَلْزَمُ من ذَلِكَ عَدَمُ صِيَامِهِ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ

“Para ulama menyatakan, bahwa hadits ini termasuk hadits yang memberikan penjelasan secara lemah akan kemakruhan puasa 10 hari Dzulhijjah. Dan maksud 10 hari disini adalah tanggal 1-9 Dzulhijjah. Maka hadits ini termasuk hadits yang harus ditakwil, karena puasa di 9 hari tersebut tidak maruh, bahkan sunnah muakkadah, terlebih lagi tanggal 9-nya, yang dia hari Arofah. Dan telah berlalu hadits-hadits tentang keutamaan 10 hari Dzulhijjah, seperti dalam shahih Bukhari bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyataka ((Amal shalih didalamnya lebih utama daripada lainnya)). Maka, takwil yang benar dari hadits ini, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak puasa karena alasan sakit, safarm atau lainnya. Atau bisa jadi memang Aisyah yang tidak tahu puasanya beliau. Dan tidak harus ketika Aisyah tidak tahu puasanya Nabi shallallahu alaih wa sallam, berarti beliau tidak berpuasa.”

 

5. Shalat ied bersama kaum muslimin

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada hari iedul adha;

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا نُصَلِّي، ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا، وَمَنْ ذَبَحَ، فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Hal yang pertama kali kita lakukan hari ini adalah shalat, lalu kita menyembelih qurban. Maka siapa yang melakukan demikian, maka dia sudah sesuai sunnah kita. Dan siapa yang menyembelih duluan sebelum shalat, maka dia adalah daging biasa yang dia berikan kepada keluarganya dan bukan dihukumi qurban.”

[ HR.Muslim (1961) ]

Juga hadits Ummu Athiyyah radhiyallahu anha;

أَمَرَنَا - تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ، الْعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ

“Kami dahulu diperintahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk mengajak keluar dia dua hari raya (iedul fitri dan iedul adha); para budak wanita, para gadis, dan para wanita haidh, dan mereka menjauhi tempat shalat.”

[ HR.Muslim (890) ]

 

6. Bertakbir pada malam iedul adha, sejak tenggelam matahari di malam ied sampai shalat ied, dimanapun dan kapanpun.

Imam Nawawi (676 H) dalam Roudhotut Tholibin (2/79) menyatakan;

فَالْمُرْسَلُ لَا يُقَيَّدُ بِحَالٍ، بَلْ يُؤْتَى بِهِ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْمَنَازِلِ وَالطُّرُقِ لَيْلًا وَنَهَارًا. وَالْمُقَيَّدُ يُؤْتَى بِهِ فِي أَدْبَارِ الصَّلَاةِ خَاصَّةً. فَالْمُرْسَلُ مَشْرُوعٌ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَأَوَّلُ وَقْتِهِ فِي الْعِيدَيْنِ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْعِيدِ

“Adapun takbir mursal maka tidak terikat dengan kondisi tertentu, bisa dilaksanakan di masjid, rumah, jalan, siang hari, dan malam hari. Sedang tabir muqoyyad dilakukan ketika setelah shalat saja. Dan takbir mursal disunnahkan di iedul fitri dan iedul adha, sejak tenggelamnya matahari malam ied.”

 

Taqiyuddin Al-Hishni (829 H) dalam Kifayatul Akhyar (hal.150) menyatakan;

يسْتَحبّ التَّكْبِير بغروب الشَّمْس لَيْلَتي الْعِيد الْفطر والأضحى وَلَا فرق فِي ذَلِك بَين الْمَسَاجِد والبيوت والأسواق وَلَا بَين اللَّيْل وَالنَّهَار وَعند ازدحام النَّاس ليوافقوه على ذَلِك وَلَا فرق بَين الْحَاضِر وَالْمُسَافر دَلِيله فِي عيد الْفطر قَوْله تَعَالَى {ولتكبروا الله على مَا هدَاكُمْ} وَفِي عيد الْأَضْحَى بِالْقِيَاسِ عَلَيْهِ

“Disunnahkan takbir sejak tenggalamnya matahari di dua malam iedul fitri dan iedul adha, dilaksanakan di masjid, rumah, pasar, siang hari, malam hari, ketika ramai orang supaya bisa bertakbir bersama-sama, dia sedang mukim, ataupun musafir. Dalil takbir iedul fitri, firman Allah Ta’ala {Dan hendaknya kalian bertakbir mengagungkan Allah atas hidayah kalian}, sedangkan iedul adha, diqiyaskan kepada iedul fitri.”

 

7. Takbir setiap selesai shalat sejak ba’da shalat shubuh tanggal 9 Dzulhijjah, sampai waktu ashar tanggal 13 Dzulhijjah

Sebagaimana hadits Jabir radhiyallahu anhu;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُ يَوْمَ عَرَفَةَ صَلَاةَ الْغَدَاةِ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam takbir sejak hari Arafah setelah shalat shubuh hingga shalat ashar di akhir hari tasyriq.”

[ HR.Baihaqi dalam Sunan Kubro (6278) ]

Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma;

أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ غَدَاةِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Beliau bertakbir sejak habis shubuh hari Arafah hingga akhir hari tasyriq.”

[ HR.Baihaqi dalam Sunan Kubro (6277) ]

 

Demikian juga dari sahabat Ali radhiyallahu anhu;

كَانَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ غَدَاةَ عَرَفَةَ , ثُمَّ لَا يَقْطَعُ حَتَّى يُصَلِّيَ الْإِمَامُ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ , ثُمَّ يُكَبِّرُ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Sahabat Ali radhiyallahu anhu bertakbir setelah shalat shubuh di hari Arafah dan tidak meninggalkannya hingga imam shalat di akhir hari tasyriq, dan bertakbir setelah shalat ashar.”

 

 

 

 

 

Khothib Syirbini (977 H) dalam Al-Iqna’ (2/223-224) menyatakan;

(وَ) يُكَبِّرُ (فِي) عِيدِ (الْأَضْحَى خَلْفَ صَلَاةِ الْفَرَائِضِ) وَالنَّوَافِلِ وَلَوْ فَائِتَةً وَصَلَاةِ جِنَازَةٍ (مِنْ) بَعْدِ صَلَاةِ (صُبْحِ يَوْمَ عَرَفَةَ إلَى) بَعْدِ صَلَاةِ (الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ) الثَّلَاثَةِ

“Dan bertakbir di iedul adha setelah shalat wajib dan sunnah, meskipun shalat qodho atau shalat jenazah, sejak setelah shalat shubuh hari Arafah hingga setelah shalat ashar di hari tasyriq terakhir.”

 

8. Bertakbir tanggal 1-10 Dzulhijjah ketika melihat atau mendengar hewan ternak yang boleh untuk qurban (onta, sapi, kambing)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya secara mu’allaq;

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، وَأَبُو هُرَيْرَةَ: يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ العَشْرِ يُكَبِّرَانِ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

“Dan Ibnu Umar serta Abu Hurairah keduanya keluar ke pasar di 10 hari Dzulhijjah, bertakbir, sehingga orang-orang bertakbir bersama takbir keduanya.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshori (926 H) dalam Asnal Matholib Syarh Ar-Roudh At-Tholib (1/284) menyatakan;

إذَا رَأَى شَيْئًا مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ كَبَّرَ قَالَهُ فِي التَّنْبِيهِ وَغَيْرِهِ وَاحْتَجَّ لَهُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ}

“Dan jika melihat hewan ternak (qurban) di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, disunnahkan bertakbir, sebagaimana disebutkan dalam kitab At-Tanbih (karya As-Syirozi -pent) dan lainnya. Berdalil dengan firman Allah Ta’ala {Dan hendaknya mereka menyebut nama Allah Ta’ala dia hari-hari yang diketahui -10 Dzulhijjah- atas apa yang Allah sudah berikan kepada rezeki berupa hewan ternak -yang bisa diqurbankan-}.”

 

Hal senada juga disampaikan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami (974 H) dalam Al-Manhaj Al-Qowim Syarah Muqoddimah Hadromiyyah (hal.195);

"ويكبر" ندبًا "لرؤية النعم" أي عند رؤية شيء منها وهي الإبل والغنم "في الأيام المعلومات وهي عشر ذي الحجة" لقوله تعالى: {وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ}

“Dan disunnahkan bertakbir ketika melihat hewan ternak (onta dan kambing) di 10 hari Dzulhijjah, berlandaskan firman Allah Ta’ala {Dan hendaknya mereka menyebut nama Allah Ta’ala dia hari-hari yang diketahui -10 Dzulhijjah- atas apa yang Allah sudah berikan kepada rezeki berupa hewan ternak -yang bisa diqurbankan-}.”

 

Wallahu Ta’ala A’alam

Ditulis pada hari Selasa

1 Dzulqo’dah 1446 H / 29 April 2025 M

Jombang


Referensi:

1. Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Quran. Al-Husain bin Masud Al-Baghowi As-Syafii. Beirut, Daar Ihyaut Turots. Cetakan pertama. Tahun 1420 H.

2. Roudhotut Tholibin wa Umdatul Muftin. Yahya bin Syaraf An-Nawawi As-Syafii. Beirut, Al-Maktab Al-Islamiy. Cetakan kedua. Tahun 1412 H.

3. Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj wa Hasyiyah Syarwani wa Abbadiy. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami. Tahun 1357 H.

4. Al-Manhaj Al-Qowim Syarh Masail At-Ta’lim. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami. Darul Kutub Al-Ilmiyyah. Cetakan pertama. Tahun 1420 H.

5. Asnal Matholib fi Syarh Roudhut Tholib. Zakariya bin Muhammad Al-Anshori. Darul Kitab Al-Islamiy.

6. Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’. Ahmad bin Muhammad Al-Khothib As-Syirbini. Beirut, Darul Fikr.

7. Kifayatul Akhyar fi Halli Ghoyatil Ikhtishor. Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad Al-Hishni. Damaskus, Darul Khoir. Cetakan pertama. Tahun 1994 M.

8. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj. Yahya bin Syaraf An-Nawawi. Beirut, Dar Ihyaut Turots Al-Arabiy. Cetakan kedua. Tahun 1329 H.

Kamis, 05 September 2024

,

Ada pertanyaan, mengenai puasa di hari jumat. Dimana ada hadits yang menyebutkan keutamaan puasa di hari jumat. Maka bagaimana pandangan madzhab Syafii mengenai puasa hari jumat. Maka, kami akan berikan jawaban dalam beberapa point berikut.


Pertama, adapun hadits yang disebut, maka ini adalah hadits Ibnu Mas'ud radhiyyallahu anhu secara marfu';


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ ثَلَاثًا مِنْ غُرَّةِ كُلِّ شَهْرٍ وَقَلَّمَا كَانَ يَفُوتُهُ صَوْمُ الْجُمُعَةِ

"Bahwa Rasulullah ﷺ puasa 3 hari di awal setiap bulan, dan jarang sekali beliau terlewat puasa hari jumat."

[ Fadhoil Auqot. Imam Al-Baihaqi. Hadits no.281 ]


Dan kita tambahkan juga, bahwa dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu disebutkan  tentang keutamaan puasa hari jumat secara khusus. Nabi ﷺ bersabda;


مَنْ صَامَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عَشَرَةَ أَيَّامٍ عَدَدُهُنَّ مِنْ أَيَّامِ الْآخِرَةِ لَا يُشَاكِلُهُنَّ أَيَّامُ الدُّنْيَا

"Siapa yang puasa hari jumat, Allah tulis baginya seperti pahala puasa 10 hari dengan hitungan hari akhirat, yang tidak sama dengan dunia."

[ Fadhoil Auqot (282) ]


Kedua, dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang lain, bahwa Nabi ﷺ bersabda;


 لَا يَصُمْ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا أَنْ يَصُومَ قَبْلَهُ، أَوْ يَصُومَ بَعْدَهُ

"Janganlah salah seorang dari kalian puasa di hari jumat, kecuali berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya."

[ HR.Muslim (1144) ]


Maka, jika kita memperhatikan hadits dalam shahih Muslim ini bertentangan secara dhohir karena melarang puasa hari jumat. Sedangkan hadits yang lain menganjurkan. Namun sejatinya bisa dikompromikan, dengan cara yang disebut di bagian akhir dalam hadits riwayat Muslim. Yaitu keutamaan puasa jumat didapat, jika memang puasa sehari sebelum (hari kamis) atau setelahnya (hari sabtu). Namun jika mengkhususkan puasa hanya hari jumat saja, maka inilah yang dilarang. Dan dalam madzhab, hukumnya adalah makruh.


Oleh karenanya, Imam Al-Baihaqi masih dalam kitabnya Fadhoil Al-Auqot juga memberikan keterangan;


فَصَوْمُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا يَجُوزُ إِذَا صَامَ قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا وَيُكْرَهُ إِفْرَادُهُ بِالصَّوْمِ

"Maka puasa hari jumat hanya dibolehkan jika puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya, dan makruh mengkhususkan hanya puasa hari jumat saja."

[ Fadhoil Auqot. Hal, 509 ]


Ketiga, diantara hikmah dimakruhkan mengkhususkan puasa di hari jumat saja. Seperti yang disampaikan oleh Amiroh dalam hasyiyah-nya;


قَوْلُ الْمَتْنِ: (وَيُكْرَهُ إفْرَادُ الْجُمُعَةِ) قِيلَ: لِأَنَّهُ يُضْعِفُ بِصَوْمِهِ عَنْ وَظَائِفِ الْعِبَادَةِ. وَقِيلَ: لِأَنَّهُ يَوْمُ عِيدٍ فَنَهَى عَنْهُ نَحْوُ النَّهْيِ عَنْ الْعِيدَيْنِ. قَالَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَغَيْرُهُ، وَقِيلَ: لِئَلَّا يَعْتَقِدَ وُجُوبَهُ، وَقِيلَ: لِئَلَّا يُبَالِغَ فِي تَعْظِيمِهِ كَالْيَهُودِ فِي السَّبْتِ

"Dan ucapan matan (makruh mengkhususkan puasa hari jumat),

dikatakan; karena hal itu bisa melemahkannya dari ibadah-ibadah lain (seperti shalat jumat, membaca surat al-Kahfi dll -edt).

Ada juga yang mengatakan; karena hari jumat adalah hari ied pekanan, maka mirip hukumnya dengan iedul fitri dan adha, hal ini dikatakan oleh Ibn Abdil Barr.

Dan dikatakan; supaya tidak disangka puasa hari jumat adalah wajib (karena bertepatan dengan ibadah yang besar yaitu shalat jumat -edt).

Ada yang mengatakan juga; supaya tidak berlebihan dalam mengagungkan hari jumat, seperti yang dilakukan orang Yahudi terhadap hari sabtu."

[ Hasyiyah Qolyubi & Amiroh 'ala Kanzir Roghibin. (2/94) ]


Wallahu Ta'ala A'lam



***

✍️ Oleh Danang Santoso

Founder & Pengasuh Fiqhgram

t.me/fiqhgram


#qna #akademifiqhgram #fikihpuasa #fikihsyafii #fikihhadits


🔔 Klik https://linktr.ee/fiqhgram untuk mendapatkan update khazanah fikih Islam dan faedah dari Fiqhgram.

Rabu, 28 Agustus 2024

,


Seseorang tidak akan menjadi ahli fikih dalam syariah, dan tidak boleh memberikan fatwa sama sekali, kecuali jika ia benar-benar mendalami ilmu ushul fikih.

Sebab, melalui ilmu ini, metode-metode istidlal (penarikan kesimpulan hukum) dan cara-cara tarjih (menimbang antara berbagai dalil) dapat diketahui.

Orang yang tidak menguasai ilmu ini akan terjebak dalam kebingungan, mendahulukan yang lemah dan mengesampingkan yang kuat, serta tidak mampu melakukan istidlal dengan baik. Bahkan, bisa saja ia menggunakan dalil pada tempat yang tidak sesuai dengan maksudnya.

Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa mempelajari ilmu ini merupakan kewajiban individual bagi seorang mujtahid dan mufti. Ia tidak boleh memberikan fatwa atau melakukan ijtihad kecuali setelah mengenal dan mendalami ilmu ini.

Imam Ibn Badran al-Hanbali, rahimahullah, menyatakan bahwa seseorang tidak akan benar-benar memahami fikih kecuali setelah mempelajari ilmu ini, bahkan jika ia telah mempelajari fikih bertahun-tahun.

Tidak cukup untuk menjadi seorang ahli fikih hanya dengan mempelajari teks-teks fikih saja tanpa mempelajari ilmu lain yang disebut ushul fikih.

Nama "ushul fikih" itu sendiri menunjukkan hubungannya, yaitu "dasar-dasar fikih," yang menjadi pondasi utama dalam berijtihad.

Bahkan, al-Hafizh Ibn al-Shalah, rahimahullah, menyebutnya sebagai "pintu menuju pemahaman yang mendalam dalam fikih. " Seseorang tidak akan menjadi ahli fikih yang mendalam kecuali jika ia menguasai ilmu ini.

Oleh karena itu, sebagian ulama menyebut seorang pelajar fikih atau penuntut ilmu atau ulama yang tidak menguasai ushul fikih sebagai "awam di kalangan ulama," sebagaimana disebutkan oleh Abu al-Muzhaffar al-Sam'ani dalam Qawathi' al-Adillah.

Maksudnya adalah bahwa ijtihadnya tidak dapat diterima, dan fatwanya tidak dapat diandalkan jika ia tidak menguasai ilmu ini. Karena ketidaktahuan akan ushul fikih akan mengakibatkan kesalahan dalam memahami teks-teks dan dalam menggunakan dalil-dalil syar'i.

Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa wajib bagi seorang ahli fikih dan mujtahid untuk mempelajari ilmu ini.

Bahkan, sebagian ulama seperti Ibn Aqil al-Hanbali berpendapat bahwa mempelajari ilmu ushul harus mendahului mempelajari ilmu fikih, karena ushul adalah dasar.

Seperti ketika seseorang ingin membangun sebuah bangunan, ia harus memulai dengan fondasinya terlebih dahulu, meletakkan dasar-dasar sebelum membangun di atasnya.

Cabang-cabang fikih dibangun di atas kaidah-kaidah dan ushul ini, sehingga harus didahulukan dalam pembelajaran.

Oleh karena itu, para ulama, rahimahumullah, telah menulis banyak buku dalam ilmu ini.

Salah satunya adalah kitab "al-Waraqat" karya Imam al-Haramain. Kitab ini adalah ringkasan yang ditulis sebagai pengantar dan tahap awal dalam mempelajari ilmu ini.

Para ulama kemudian menggubah kitab "al-Waraqat" ini menjadi puisi untuk memudahkan pemahaman.

Di antara mereka adalah Syihabuddin al-Tukhi al-Syafi'i, rahimahullah, yang menggubahnya pada abad ke-9 Hijriah.

Kemudian, pada abad ke-10, datanglah Yahya bin Musa al-'Amrithi, penulis nadhom ini, yang menggubah "al-Waraqat" dalam bentuk puisi yang ia namakan "Tashil al-Thuruqat li Nadhmi al-Waraqat."

Setelahnya, datanglah Muhammad bin Ibrahim bin al-Mufadhdhal al-Yamani yang menggubah "al-Waraqat" dalam nadhom.

Nadhom ini (Tashil Thuruqat), yang ada di hadapan kita, juga telah dijelaskan oleh sekelompok ulama, di antaranya Syaikh Abdul Hamid Quds al-Makki dari ulama Mekah.

Nadhom ini juga telah dijelaskan oleh Syaikh kami, Syaikh Muhammad al-Shalih al-'Utsaimin, rahimahullah, dalam sebuah syarah yang telah dicetak.

Nadhom ini,  adalah nadhom yang mudah dan ringan untuk dihafal, sehingga cocok untuk menjadi pengantar dalam mempelajari ilmu ini.

***
📚 Sumber:
Syarah Tashil Turuqat, Syaikh Musthafa Makhdum

Oleh Ahmad Reza Lc
Pengasuh Fiqhgram
t.me/fiqhgram

🔗 Segera daftar di kelas usul fikih Akademi Fiqhgram disini >> t.me/akademifiqhgram2